yushi has to physically hold his laughter from coming out.
waktu yushi bilang dia berharap nggak ada omongan kerjaan di meja makan, he didn’t think sion’s parents wouldn’t be talking at all. suaminya juga kelihatan bingung, kenapa mereka diundang makan siang dan nggak ada satupun yang buka percakapan?
“kapan kita meeting soal alokasi budget music?” tanya sion yang sebenernya udah gerah ngeliat orang tuanya diem aja dari tadi.
kali ini yushi beneran nggak bisa nahan ketawanya, soalnya mami dan papi sama-sama ngeliat ke dia dengan ekspresi minta tolong. yushi clearly underestimated just how bad his husband’s relationship with his parents is. it’s cute how his in-laws are keeping their promise not to talk about work though, cuma maksud yushi juga bukan kayak gini…
“mas, nggak bosen apa ngomongin kerjaan terus? mending kita ngomongin lasagna yang enak banget ini…” mami didn’t even realize she was holding her breath, finally chiming in when yushi has successfully shifted the conversation.
“sion masih ingat sama restoran ini? dulu kita sering kesini karena langganannya eyang putri. kamu, jaehyun dan eunseok pasti duduk di sofa pojok, nggak mau makan main course sebelum garlic breadnya datang.” there’s a surprised look on sion’s face before yushi thinks everything starts to click for his husband.
“tempatnya bisa delivery sekarang?”
“nggak sih, mami arrange biar bisa untuk birthday lunch kamu.”
sion cuma bisa ngangguk, and yushi thinks he’s just as bad as his parents. sion yang biasanya tegas dan blak-blakan, sekarang kesulitan buat natap mata maminya sendiri. it’s pretty sad in comparison to how he acts around his family, but yushi appreciates how mami and papi are actually committing to his silly request, even when things get a little too awkward right now.
“rasanya masih oke kan, sion?”
“lebih enak sekarang kayaknya, mam.”